Luang Prabang, Laos: Kota Warisan Dunia yang Wajib Dikunjungi

Kuang Si Waterfall multi tier turquoise waterfall in Luang Prabang Laos

Apa dan di Mana Luang Prabang?

Relatif berada di bawah radar perpariwisataan Asia Tenggara, nama Laos rasanya kurang familier di kalangan wisatawan, terutama orang Indonesia. Tidak seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura, dan Indonesia yang gencar mempromosikan wisatanya, negara sosialis ini terkesan “adem-ayem” dalam menyebarluaskan informasi terkait pariwisatanya. Padahal, negara Indochina ini punya banyak sekali tempat-tempat eksotis. Salah satu favorit saya adalah Luang Prabang, suatu kota di Laos bagian utara. Kota yang berada di tepi Sungai Mekong ini sebenarnya sudah ada sejak sekitar 1.200 tahun yang lalu, namun namanya semakin santer terdengar belakangan ini, terutama setelah diresmikannya kereta cepat Laos-China (Lao China Railway atau LCR). Kota ini menjadi hub antara ibu kota Laos, Vientiane, dan Kunming, ibu kota Provinsi Yunnan di China. Namun, kota ini bukan sekadar tempat transit. Setiap tahun, tercatat jutaan wisatawan dari berbagai negara sengaja datang ke kota yang masuk dalam UNESCO World Heritage Centre ini. Ya, mantan ibu kota Laos ini menjadi alasan utama kedatangan wisatawan ke Negeri Sejuta Gajah ini. Kota kecil ini sangat cocok untuk wisatawan yang mencari ketenangan, jauh dari ingar-bingar perkotaan, dan ingin menikmati keindahan alam.

Lalu, ada apa saja sih di kota ini? Yuk, kita intip!

Luang Prabang Old Town: UNESCO World Heritage Centre

Yang menjadi daya tarik Luang Prabang sebenarnya kota itu sendiri. Suasana di sini rasanya tentram sekali. Selama tiga hari saya di sini, rasanya sangat jarang sekali terdengar klakson kendaraan, apalagi knalpot brong. Benar-benar slow living banget deh kota ini. Cara terbaik untuk mengeksplorasinya adalah dengan berjalan kaki atau menyewa kendaraan seperti sepeda atau sepeda motor. Kabar baiknya, SIM Indonesia berlaku juga di Laos, lho. Menurut saya, waktu terbaik untuk jalan-jalan mengelilingi kota ini adalah saat sore hari karena matahari sudah tidak terik dan cuacanya chill banget. Dipadukan dengan siluet matahari terbenam, lampu-lampu yang mulai gemerlap, dan bangunan bergaya kolonial Prancis, vibes-nya dapet banget, deh! Suasananya membangkitkan ingatan saya pada UNESCO World Heritage Town  lainnya yang terletak di Asia Tenggara juga, Hoi An.  Pada malam hari, terdapat pasar malam yang menjual berbagai suvenir dan makanan serta minuman khas Laos. Pada saat fajar, di kota ini juga terdapat ritual tak bat, yang mana masyarakat lokal memberikan sedekah kepada para biksu. Hal ini dikarenakan sebagian besar penduduk Laos menganut agama Buddha.

peaceful street view of luang prabang unesco heritage town
Luang Prabang dan aura slow living-nya.
Luang Prabang old town with French colonial architecture UNESCO World Heritage Site in Laos
Suatu sore di sebuah negara sosialis Laos.

Phou Si Mountain

Berdiri di tengah kota Luang Prabang, Gunung Phou Si menawarkan pemandangan 360◦ yang sangat spektakuler. Untuk mencapai puncaknya tidaklah semudah itu. Langkah pertama adalah mencari pintu masuknya yang berada di seberang Royal Palace Museum.

royal palace museum luang prabang laos architecture
Royal Palace Museum yang berada di sebrang pintu masuk Gunung Phou Si

Setelah itu, kita diwajibkan untuk membayar karcis masuk dengan harga 30.000 LAK untuk warga negara asing.  Nah, setelah itu tantangan terberatnya sudah terbentang di depan mata: hamparan 328 anak tangga menunggu untuk ditaklukan. Untuk medannya, menurut saya tidak terlalu curam, tapi perlu diperhatikan untuk teman-teman yang memiliki kondisi khusus, ya. Waktu rata-rata yang diperlukan untuk menaklukan gunung berketinggian 100 mdpl ini adalah 15 hingga 20 menit, tapi tentu saja tergantung tingkat kebugaran masing-masing individu.

phou si mountain stairs luang prabang
Jalan menuju puncak Gunung Phou Si

Sesampainya di puncak, kita akan disajikan dengan pemandangan Kota Luang Prabang yang diapit oleh dua sungai: Sungai Nam Khan yang lebih kecil dan Sungai Mekong yang besar. Dari ketinggian kita bisa menyaksikan perahu-perahu yang hilir mudik di Sungai Mekong. Konon katanya, kita bisa menuju Chiang Mai dengan menggunakan slow boat dari Luang Prabang dengan estimasi waktu perjalanan dua hari. Bisa dicoba untuk teman-teman yang memiliki waktu cukup luang dan ingin mengontemplasi diri.

nam khan river view from mount phousi luang prabang
Bird’s-eye view Kota Luang Prabang dari puncak gunung.
sunset view from Mount Phousi overlooking mekong river
Sungai Mekong yang terlihat dari puncak gunung berketinggian 100 mdpl.

Selain itu, di puncak gunung ini juga terdapat stupa yang bernama Wat Chom Si. Stupa berwarna emas yang didirikan pada tahun 1804 ini berdiri megah di puncak tertinggi kota yang pernah menjadi pusat administrasi pada zaman penjajahan Prancis ini. Tips: waktu berkunjung terbaik adalah pada sore hari untuk menghindari mendaki di tengah teriknya sinar matahari. Selain itu, sunset di sini indah sekali dan hampir pasti selalu dipadati pengunjung. Oleh karena itu, pastikan sobat tiba lebih awal dan memilih posisi yang paling strategis untuk menyaksikan golden hour di atas Sungai Mekong, ya.

golden stupa wat chom si on mount phousi luang prabang
Wat Chom Si yang berdiri megah di atas puncak Gunung Phou Si
sunset golden hour view from Mount Phousi overlooking mekong river
Golden hour over the Mekong River basin.

Kuang Si Waterfall

Nah, ini dia lakon utama dari trip ke Luang Prabang! Kuang Si Waterfall adalah air terjun berketinggian 60 meter yang wajib hukumnya untuk dikunjungi apabila kita ke Luang Prabang. Kompleks air terjun ini berada sekitar 30 km dari pusat kota Luang Prabang. Cara menuju tempat ini adalah dengan sepeda motor atau dengan bus hijau. Karena santer terdengar kabar bahwa cukup banyak traveler yang mengalami kecelakaan menggunakan sepeda motor dalam perjalanan menuju air terjun, maka saya memilih menggunakan transportasi umum saja. Untuk naik bus hijau ini, kita harus membeli karcis seharga 45.000 LAK untuk sekali perjalanan di That Luang Park. Bus paling awal terjadwal pukul 08.00 waktu setempat. Perjalanannya sendiri memakan waktu kurang lebih satu jam dengan medan yang menurut saya cukup berbahaya, karena dilalui banyak kendaraan besar dan cukup banyak lubang. Jadi  menurut saya cara terbaik adalah dengan menggunakan bus hijau ini.

green bus from luang prabang to kuang si waterfall
Bus hijau yang akan mengantarkan kita menuju Kuang Si.

Sesampainya di area Kuang Si, kita diwajibkan membeli karcis masuk seharga 65.000 LAK. Karcis tersebut sudah termasuk layanan kendaraan pulang pergi menuju gerbang air terjun. Sesampainya di gerbang, kita harus melewati jalan setapak yang berukuran cukup lebar (jadi gak setapak juga, ya). Selama perjalanan menuju air terjun utama, terdapat penangkaran beruang madu. Di sini merupakan tempat beruang-beruang yang cukup beruntung selamat dari perdagangan hewan diasuh. Lainnya yang kurang beruntung harus menerima nasib dibunuh untuk diperdagankan anggota tubuhnya. Terdengar cukup miris, tapi begitulah faktanya kelakuan manusia.

Salah seekor beruang yang selamat dari bear trafficking sedang menikmati tidur siangnya.

Setelah melewati penangkaran beruang madu, kita akan disuguhi air terjun-air terjun kecil dengan air berwarna turquoise. Jadi, Kuang Si sendiri merupakan suatu kompleks air terjun yang terdiri dari air terjun utama dan banyak punden berundak. Nah, air terjun-air terjun kecil tersebut merupakan punden berundak yang dilalui air yang mengandung kalsium karbonat. Hal ini yang menjelaskan mengapa air di sini berwarna turquouise.

multi tier waterfall at kuang si falls luang prabang
Suasana yang syahdu diiringi gemericik air
jungle waterfall scenery at kuang si falls
Pemandangan air terjun-air terjun kecil di tengah hutan.

Setelah berjalan kurang lebih 10 menit, maka kita akan sampai di air terjun utama. Menurut saya, ini merupakan salah satu air terjun paling indah yang pernah saya saksikan. Kalau Tumpak Sewu mendapat predikat air terjun megah, maka menurut saya Kuang Si layak mendapat predikat charming. Susunan bebatuan yang dialiri air berwarna turqois dan bermandikan cahaya matahari pagi menciptakan suasana magis tersendiri. Ditambah dengan soundtrack alam berupa gemericik air dan kicauan burung jelas membuat kita sejenak melupakan rutinitas keseharian.  

crystal blue water at kuang si waterfall laos
Inilah dia gong-nya, air terjun utama di Kuang Si.

FAQ terkati Luang Prabang, Laos

Apakah Luang Prabang layak dikunjungi?
Ya. Luang Prabang merupakan kota warisan dunia UNESCO yang terkenal dengan kuil Buddha, arsitektur kolonial Prancis, serta keindahan alam seperti Kuang Si Waterfall.

Berapa hari ideal untuk menjelajahi Luang Prabang?
Sebagian besar wisatawan menghabiskan 2–3 hari di Luang Prabang untuk mengunjungi Old Town, Phou Si Mountain, dan Kuang Si Waterfall.

Bagaimana cara menuju Kuang Si Waterfall dari Luang Prabang?
Kuang Si Waterfall berjarak sekitar 30 km dari pusat kota Luang Prabang dan dapat dicapai dengan sepeda motor, tuk-tuk, atau bus wisata.

Kapan waktu terbaik berkunjung ke Luang Prabang?
Waktu terbaik mengunjungi Luang Prabang adalah antara November hingga Februari ketika cuaca lebih sejuk dan kering.

Apakah wisatawan bisa mengikuti ritual tak bat di Luang Prabang?
Wisatawan dapat menyaksikan ritual tak bat saat fajar, tetapi disarankan untuk menjaga jarak dan menghormati tradisi lokal.

CATEGORIES

LAOS

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *