Waspada DVT Saat Traveling: Risiko Duduk Lama & Cara Mencegahnya

llustration of DVT risk during long-haul flight due to prolonged sitting

Perjalanan Jauh Tidak Selalu Seaman yang Kamu Kira

Penerbangan 8 hingga 10 jam atau perjalanan kereta 10 hingga 12 jam terdengar biasa. Tapi tahukah sobat bahwa ada bahaya di balik hal yang terdengar biasa tersebut? Duduk terlalu lama di kendaraan, seperti pesawat, bus, atau kereta bisa meningkatkan risiko pembekuan darah di tungkai, yang juga dikenal sebagai deep vein thrombosis (DVT). Meski terdengar jarang, DVT bisa menjadi serius—terutama jika bekuan darah tersebut berpindah ke paru-paru (emboli paru). Hal ini dapat mengakibatkan kesulitan bernapas, atau bahkan kematian.

Apa Itu Deep Vein Thrombosis (DVT)?

Deep Vein Thrombosis (DVT) adalah kondisi terbentuknya bekuan darah di vena dalam, paling sering di area betis atau paha. Jadi, di tubuh kita ada dua jenis pembuluh darah: yang membawa darah bersih (arteri) dan darah kotor (vena). Yang dimaksud darah kotor adalah darah yang membawa sisa-sisa hasil metabolisme tubuh. Nantinya, darah ini akan dibawa ke paru-paru untuk diganti dengan oksigen, dan kemudian siap didistribusikan melalui arteri. Nah, pembuluh darah yang terdampak dalam DVT adalah vena yang terletak di tungkai bawah. Secara struktur, vena juga lebih lemah dibanding arteri, karena memiliki dinding yang lebih tipis dan katup untuk mencegah aliran balik (backflow). Letak vena di tungkai bawah menjadi lebih berisiko untuk mengalami DVT karena aliran darah harus melawan gravitasi untuk kembali ke jantung, sehingga kemungkinan terjadi penumpukan (pooling) menjadi lebih besar di tungkai bawah.

Illustration of blood clot formation in deep leg veins in DVT
Mekanisme terjadinya DVT

Gejala DVT yang Perlu Diwaspadai

Berikut adalah gejala DVT yang perlu diwaspadai:

– Bengkak pada tungkai

– Nyeri atau rasa berat pada daerah betis

– Kulit kemerahan dan teraba hangat

Calf swelling and pain as symptoms of deep vein thrombosis
Gejala dan tanda DVT

Keadaan-keadaan tersebut dapat dengan jelas diidentifikasi oleh penderitan dan petugas medis.  Namun yang berbahaya, DVT juga bisa terjadi tanpa gejala jelas. Dari beberapa penelitian disebutkan bahwa DVT tanpa gejala yang khas dapat ditemukan di hampir 50% penderita, terutama mereka yang memiliki faktor risiko tinggi, seperti tirah baring lama, riwayat kanker, dan operasi, khususnya pada tungkai bawah. Hal ini tentunya sangat berbahaya, karena dapat menimbulkan gejala yang serius secara tiba-tiba, seperti sumbatan di paru-paru.

Kenapa Traveling Bisa Memicu DVT?

1. Duduk Terlalu Lama (Imobilisasi)

Duduk berjam-jam membuat aliran darah di daerah tungkai bawah melambat. Keadaan ini menciptakan suatu kondisi ideal untuk pembentukan bekuan darah (clot), yang merupakan cikal bakal terjadinya DVT.

2. Ruang Gerak Terbatas

Kursi pesawat, bus, atau kereta sering sempit, sehingga menyebabkan tungkai bawah jarang digerakkan. Hal tersebut dikarenakan aliran darah balik dari tungkai bawah sangat bergantung pada otot-otot sekitarnya (gampangnya, otot yang berkontraksi akan membantu memompa darah kembali ke jantung). Sehingga, tungkai bawah yang jarang digerakkan jelas meningkatkan risiko terjadinya gumpalan darah. Faktor risiko inilah yang menyebabkan DVT sering disebut sebagai “economy class syndrome”. Bukan karena wabah yang merebak di kelas ekonomi, melainkan karena struktur tempat duduk di kelas ekonomi yang biasanya dianggap sempit.

3. Dehidrasi

Kurang minum saat perjalanan bisa membuat darah lebih kental, sehingga meningkatkan kecenderungan darah untuk menggumpal. Hal ini menjadi pengingat untuk tetap mengonsumsis cukup cairan selama perjalanan.

4. Tekanan Kabin Pesawat

Pada penerbangan, tekanan di kabin lebih rendah dibanding di darat. Hal ini dapat memengaruhi sirkluasi darah, seperti kadar oksigen yang lebih rendah, sehingga pada akhirnya meningkatkan risiko terbentuknya gumpalan darah.

Siapa yang Berisiko Lebih Tinggi?

Kabar baiknya, tidak semua traveler memiliki risiko yang sama. Namun, beberapa individu memiliki kerentanan untuk mengalami DVT, terutama jika:

– Berusia di atas 40 tahun

– Obesitas

– Riwayat DVT sebelumnya

– Sedang hamil atau baru saja melahirkan

– Menggunakan kontrasepsi hormonal

– Baru menjalani operasi atau cedera, terutama cedera anggota gerak bawah

– Memiliki penyakit tertentu (misalnya gangguan pembekuan darah atau kanker)

Apabila sobat termasuk kelompok rentan ini, penting untuk lebih proaktif dalam pencegahan. Dalam hal ini, konsultasi dengan tenaga medis sangat dianjurkan.

Cara Mencegah DVT Saat Traveling

Kabar baiknya, DVT dapat dicegah dengan langkah-langkah yang terbilang cukup sederhana. Anjuran ini tidak terbatas untuk mereka yang memiliki kerentanan saja, namun bisa dilakukan untuk seluruh individu dalam perjalanan:

1. Bergerak Secara Berkala

Selama perjalanan, usahakan untuk berdiri atau berjalan setiap 1–2 jam.

Namun, jika keadaan tidak memungkinkan, lakukan gerakan kaki di kursi sebagai berikut:

– ankle pump (gerakan naik-turun pergelangan kaki)

– memutar pergelangan kaki

– berdiri dari posisi duduk

– menekan daerah bokong secara berkala

dvt prevention exercise NHS
Latihan sederhana yang dapat dilakukan selama perjalanan (www.nhs.co.uk)

2. Tetap Terhidrasi

– Minum air putih yang cukup. Pada prinsipnya, setiap jam di perjalanan jauh membutuhkan asupan cairan setidaknya 250 ml. Misalnya, untuk perjalanan selama 3 jam, maka jumlah cairan minimal yang perlu dikonsumsi sebanyak 750 ml.

– Hindari alkohol dan kafein berlebihan. Hal ini karena sifat diuresis kedua jenis minuman tersebut (dapat memicu buang air kecil), sehingga meningkatkan risiko dehidrasi.

3. Gunakan Pakaian Nyaman

– Hindari pakaian terlalu ketat yang menghambat aliran darah

4. Pertimbangkan Compression Stockings

– Pada individu yang berisiko, stoking kompresi dapat membantu melancarkan aliran darah di tungkai bawah

Tanda Bahaya yang Tidak Boleh Diabaikan

Segera cari bantuan medis jika mengalami:

Gejala DVT:

  • Bengkak satu kaki
  • Nyeri betis/paha
  • Kulit kemerahan & hangat

Gejala Emboli Paru (DARURAT):

  • Sesak napas mendadak
  • Nyeri dada
  • Batuk (kadang berdarah)

Ini bisa mengarah ke emboli paru, kondisi darurat medis

Kesimpulan

Duduk lama saat traveling memang sulit dihindari. Namun, risiko DVT bisa ditekan dengan langkah sederhana:

✔️ Bergerak secara berkala
✔️ Menjaga hidrasi
✔️ Mengenali faktor risiko

Traveling seharusnya menyenangkan—bukan berisiko.

FAQ mengenai DVT saat traveling

Q: Apakah semua orang berisiko DVT saat traveling?

A: Tidak. Risiko lebih tinggi pada individu dengan faktor tertentu seperti usia, obesitas, atau riwayat DVT.

Q: Berapa lama duduk bisa meningkatkan risiko DVT?

A: Risiko meningkat pada perjalanan lebih dari 4–6 jam, terutama tanpa banyak bergerak.

Q: Apakah perlu pakai compression stockings saat flight?

A: Tidak wajib untuk semua orang, tetapi dianjurkan bagi individu dengan risiko tinggi.




No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *