Pernah Mengalaminya Saat Liburan?
Lagi asyik jalan di Malioboro, naik turun tangga, atau eksplor tempat wisata, tiba-tiba kaki salah pijak—dan “krek”. Nyeri pun langsung muncul, diikuti bengkak.
Ya, kamu mungkin mengalami keseleo (ankle sprain). Tetap tenang dan jangan khawatir berlebih, karena cedera ini sangat umum terjadi saat traveling. Sering sekali saya menjumpai pasien, baik di rawat jalan maupun di IGD, yang mengeluhkan terkilir saat sedang traveling. Dan sayangnya, banyak yang mendapat pertolongan pertama yang tidak tepat hanya karena panik.
Sebetulnya banyak faktor yang menyebabkan ankle sprain sering terjadi pada kaum traveler, namun secara umum karena:
– Jalan jauh tanpa istirahat: hal ini dikarenakan tubuh “kaget” dan belum terbiasa dengan aktivitas yang tinggi. Selain itu, faktor konsentrasi yang menurun juga bisa meningkatkan risiko terjadinya cidera.
– Medan tidak rata (batu, tangga, atau jalan licin): hal ini menjadi faktor tersering penyebab ankle sprain saat hiking atau pada traveler yang bepergian ke daerah bersalju.
– Sepatu yang kurang mendukung: faktor alas kaki yang tidak sesuai dapat memengaruhi fungsi anggota gerak bawah. Sebagai contoh, penggunaan high heels dapat meningkatkan beban kerja pergelangan kaki dan lutut, sehingga mempermudah terjadinya cidera. Selain itu, alas kaki yang licin dapat menyebabkan terpeleset dan cedera. Oleh karena itu, penting untuk selalu memeriksa kondisi alas kaki kita pada saat traveling, ya.

Apa Itu Keseleo (Ankle Sprain)?
Sebelum kita membahas lebih jauh tentang penanganan dan pencegahannya, kita bahas tipis-tipis sekilas ankle sprain alias keseleo ini, yuk. Jadi, keseleo terjadi ketika ligamen (jaringan lunak yang menghubungkan tulang dengan tulang) mengalami peregangan berlebih atau robekan akibat pergelangan kaki terpelintir. Tingkat keparahannya pun bervariasi:
– Ringan: ligamen hanya merenggang
– Sedang: robekan sebagian
– Berat: robekan total (atau kasarnya ligamen putus)
Untuk mengetahui derajat keparahannya, bisa dilakukan penilaian secara klinis (berdasarkan gejalanya) dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan penunjang, seperti X-ray, USG, atau MRI. Jika berdasarkan gejalanya, robekan ringan umumnya ditandai dengan nyeri dan bengkak yang ringan juga. Pada tahap ini, biasanya penderita masih bisa berjalan. Sedangkan derajat berat umumnya ditandai dengan bengkak dan nyeri hebat, sehingga tidak memungkinkan untuk berjalan atau bahkan sekedar menumpu tubuh.
Bagaimana Langkah Pertama Penanganan Terkilir?
Setelah terjadi ankle sprain, maka selanjutnya akan terjadi peradangan di daerah pergelangan kaki. Nah, peradangan inilah yang memberikan gambaran bengkak serta rasa nyeri pada sekitar pergelangan kaki. Umumnya proses ini terjadi dalam 5 hingga 7 setelah cidera, dan kemudian berangsur-angsur mereda seiring berjalannya waktu. Penanganan ankle sprain yang tepat pada fase ini sangat penting untuk mencegah cidera berkepanjangan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah mengaplikasikan prinsip RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation), terutama dalam 24-48 jam pertama. Yuk, kita bahas satu per satu.
1. Rest (Istirahat)
Hentikan aktivitas berjalan apalagi berlari! Jangan dipaksakan untuk “lanjut itinerary”—ini kesalahan paling sering dijumpai. Hanya karena “mumpung di sini”, jadinya pergelangan kaki yang sudah cidera tetap dipaksakan untuk bekerja. Jelas hal ini berisiko memperparah cidera yang dialami. The itinerary can be repeated, but not your body!
2. Ice (Kompres dingin)
Kompres dingin bertujuan untuk mengurangi peradangan (agar bengkak cepat mereda) dan rasa nyeri. Cara paling ideal adalah dengan menggunakan es batu yang dimasukkan ke dalam plastik, kemudian dibungkus menggunakan kain. Hindari kontak langsung es dengan kulit untuk mencegah iritasi. Namun, apabila es tidak tersedia, botol minuman dingin atau sejenisnya juga dapat digunakan sementara waktu.
Kompres sebaiknya dilakukan selama 15 hingga 20 menit dan diulangi tiap 1 sampai 2 jam per hari.
3. Compression (Bebat)
Penggunaan bebat bertujuan untuk mengurangi pembengkakan. Elastic bandage yang banyak dijual di apotek dapat digunakan untuk membebat pergelangan kaki yang terkilir, namun pastikan agar tidak terlalut kencang (tidak menyebabkan kesemutan), karena dapat mengganggu peredaran darah.
4. Elevation (Posisi lebih tinggi)
Elevasi juga ditujukan untuk mengurangi pembengkakan. Saat istirahat, posisikan kaki lebih tinggi dari jantung. Hal ini dapat dilakukan dengan peralatan yang berada di sekitar kita, misalnya dengan bantal di hotel

Pengaplikasian prinsip RICE ini juga berlaku di sendi mana pun, tidak terbatas pada cedera pergelangan kaki.
Bolehkah Tetap Jalan Setelah Keseleo?
Jujurly, ini pertanyaan paling sering ditanyakan setelah seseorang mengalami ankle sprain. Saya paham, mungkin masih dalam keadaan denial perjalanannya terganggu. Namun, anjuran saya sebaiknya tetap diistirahatkan dengan menggunakan prinsip RICE di atas, ya. Selama istirahat, sebaiknya pergelangan kaki yang mengalami cidera tetap digerakkan agar membantu mengurangi bengkak dan mecegah terjadinya kaku pada sendi.
Tanda Bahaya: Kapan Harus ke Dokter?
Secara umum, ankle sprain yang terjadi sehari-hari merupakan derajat ringan saja, artinya tidak memerlukan penanganan dan investigasi yang mendalam. Namun, beberapa tanda harus diwaspadai, seperti:
– Tidak bisa berjalan lebih dari 4 langkah
– Tidak dapat berdiri menumpu tubuh
– Nyeri tekan pada tulang (bukan hanya otot)
– Bengkak besar dalam waktu cepat
– Ada kecurigaan patah tulang
Hal ini jelas membutuhkan perhatian lebih, karena bisa jadi pergelangan kaki yang keseleo tersebut bukan hanya sekedar ankle sprain biasa. Kemungkinan terburuknya adalah fracture pada pergelangan kaki, sehingga pastinya memerlukan pemeriksaan seperti X-ray. Apabila hal ini terjadi saat traveling, penting untuk mempertimbangkan ke klinik atau rumah sakit terdekat. Selain itu, sebaiknya hindari untuk dilakukan urut atau pijat pada daerah cedera, ya. Hal ini dapat memperparah pembengkakan atau malah memperluas area kerusakan sendi.
Cara Mencegah Keseleo Saat Traveling
Seperti kata pepatah, lebih baik mencegah daripada mengobati. Begitu juga dengan ankle sprain, lebih baik mencegah dengan persiapan yang matang dibanding menghadapinya, bukan? Mungkin yang namanya musibah memang tidak terduga, namun dengan persiapan yang matang, mudah-mudahan dapat meminimalisir kemungkinan terjadinya keseleo ini.
– Pilih sepatu yang stabil dan nyaman: alas kaki adalah kunci dalam traveling atau hiking, terutama bila itinerary kita mencakup aktivitas berjalan jauh dalam waktu panjang.
– Waspada pada jalan tidak rata atau licin: selalu tingkatkan kewaspadaan apabila berjalan di permukaan yang tidak rata atau licin. Lebih baik menunda untuk mengambil foto untuk focus ke jalan daripada harus mengalami keseleo, bukan?
– Jangan terlalu memaksakan diri saat lelah. Pada saat lelah, umumnya koordiasi tubuh dan konsentrasi akan menurun, sehingga meningkatkan risiko terjadinya cidera. Oleh karena itu, upayakan istirahat sejenak, ya. Relax, don’t push yourself too much! You’re on vacation, afterall.
– Lakukan pemanasan ringan sebelum aktivitas berat. Ini penting untuk membiasakan tubuh sebelum menghadapi aktivitas berat, seperti berjalan jauh atau mendaki.
Mau traveling dan sedang bingung memilih backpack yang tepat? Yuk, simak tips n trick-nya di sini, ya.
Kesimpulan
Keseleo saat traveling memang tidak terduga, tapi penanganan yang tepat di awal bisa mencegah cedera jadi lebih parah.
Selalu ingat prinsip sederhana dalam penanganan cidera, yaitu RICE + kenali tanda bahaya
Kalau ragu, lebih baik berhenti sejenak daripada memaksakan perjalanan, karena kesehatan-mu kan yang utama.
FAQ Ankle Sprain saat Traveling
Q: Apakah keseleo harus diurut atau dipijat?
A: Tidak dianjurkan di fase awal karena bisa memperparah cedera.
Q: Berapa lama sembuh dari keseleo?
A: Tergantung derajatnya, bisa dari beberapa hari hingga beberapa minggu.
Q: Apakah perlu X-ray?
A: Jika ada tanda bahaya seperti tidak bisa menapak atau nyeri tulang signifikan

No responses yet